Berbagai kalangan masyarakat kelas kecil bawah, kelas menengah, sampai kelas atas, ramai memperbincangkan berbagai dinamika Pilkada Walikota Siantar yang telah memasuki tahapan demi tahapan menuju hari H, 27 November 2024.
Kalau dicermati, perbincangan rakyat kelas bawah berpenghasilan minim yang bekerja banting tulang peras keringat, berbeda dengan perbincangan kelas menengah berpenghasilan cukup. Beda juga dengan perbincangan kelas atas berpenghasilan lebih dari cukup.
Sementara, perbincangan soal Pilkada semakin meluas bebas, menyebar ke delapan penjuru angin yang terus berhembus karena pemanasan tidak merata dan tidak memiliki banyak substansi. Sehingga, perubahan suhu membuat arah angin selalu berubah-ubah.
Perbincangan yang saat ini paling hangat bahkan mulai memanas, tentang persaingan bakal calon (Balon) yang jumlahnya melebihi hitungan jari tangan, begitu sengit memburu “kapal” partai politik sebagai kenderaan maju menjadi Calon Walikota/Wakil Walikota.
Karenanya, kantor-kantor partai politik di tingkat pusat disebut ramai didatangi para Balon atau Tim Pemenangan menjaga dermaga agar “kapal” tidak membawa penumpang lain yang mungkin punya nilai tawar plus.
Sementara, dari informasi yang berkembang atau sengaja dikembang-kembangkan dan seolah-olah valid, dikatakan bahwa “Sipolan” sudah dapat koalisi partai politik “Anu”. Bahkan, ada berani taruhan bahwa “Sipolan” tidak dapat “kapal”.
Terkait dengan itu juga, akan ada Balon yang “kempes” di tengah jalan sebelum pendaftaran tanggal 27,28 dan 29 Agustus 2024 ke KPU Siantar. Sementara, ada pasangan Balon nomor satu yang disebut sudah punya kapal dan punya pasangan nomor dua untuk bersanding, segera melakukan deglarasi.
BAGAI BOLA API Perbincangan lain yang akan terus membesar seperti bola api, tentang berapa harga nominal perkepala untuk transaksional. Karena semua calon akan “menyiram”, diinformasikan juga bakal terjadi saling timpa harga sebagai strategi memperoleh suara terbanyak.
Sementara, di sekitar kompleks perkantoran pejabat, ada perbincangan “senyap” tentang kelapa parut milik negara, diperas menjadi santan sebagai penyedap penganan yang juga bagian dari strategi transaksional.
Padahal, “sesenyap-senyapnya” perbincangan, tetap terdengar juga karena dinding atau tembok kantor, bisa bicara. Apalagi ada pejabat yang diam-diam jadi kaki tangan calon lainnya karena sengaja pasang kaki dua atau lebih agar tetap aman siapapun Walikota terpilih.
SEPI PEMBAHASAN Di antara riuhnya perbincangan soal Pilkada, muncul pertanyaan, mengapa pembahasan tentang visi dan misi Calon Walikota/Wakil Walikota terdengar sepi? Padahal, itu sebagai gambaran bagaimana memajukan kota Siantar agar lebih baik dari sebelumnya.
Perbincangan yang sempat ramai tetapi akhirnya kembali sepi juga karena terjadi pembiaran, tentang gambar-gambar Balon Walikota yang tersenyum menunjukkan gigi agar disebut ramah telah merubah wajah kota.
PENUTUP Meski ada Balon sudah menerima surat tugas atau rekomendasi dari partai politik untuk maju pada Pilkada, belum ada Balon berani memperlihatkan formulir B1 KWK sebagai “tiket” mendaftar ke KPU Siantar untuk menjadi calon.
Sementara, dalam dunia politik seperti menyongsong Pilkada Siantar saat ini, yang pasti itu adalah ketidakpastian. (Penulis :Pemred senternews/Berdomisili di Siantar)






