SIANTAR, SENTERNEWS
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi gelar nonton bareng (nobar) dan diskusi mendalam atas film dokumenter investigatif “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”.
Nobar tersebut berlangsung di Margasiswa PMKRI Pematangsiantar, Selasa (05/05/2026) malam, Bertujuan untuk membedah realitas perampasan ruang hidup masyarakat adat di Papua Selatan yang dibungkus dengan narasi Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Film karya sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Dale itu menyingkap tabir gelap di balik ambisi pemerintah dalam proyek ketahanan pangan dan energi atau biodiesel dan bioetanol,” kata Ketua Presidium PMKRI Pematangsiantar, Fransisco Mezgion Hutauruk melalui keterangan pers, Rabu (06/05/2026).
Dijelaskan juga, film tersebut merekam momen traumatik warga, seperti Yasinta Moiwend yang menyaksikan kedatangan 2.000 ekskavator di dermaga kampungnya, hingga aksi heroik Franky Woro dan komunitas Awyu yang memasang 1.800 salib merah sebagai benteng spiritual dan fisik melawan ekspansi korporasi dan militer.
Sedangkan diskusi menghadirkan Br Fransiskus Malau, OFMCap sebagai pemantik, Fransisco Mezgion Hutauruk penanggap kritis. Moderator, Paulinus Mersiwince Gulo (Presidium Gerakan Kemasyarakatan PMKRI Pematangsiantar).
Melalui diskusi itu, Br Fransiskus Malau memaparkan, apa yang terjadi di Papua adalah potret ketidakadilan pembangunan. Karena, Tanah Papua bukan tanah kosong karena ada Suku Marind, Yei, dan Awyu yang identitasnya melekat pada hutan.
“Ketika hutan dikonversi menjadi kebun tebu dan sawit seluas 2,5 juta hektar tanpa persetujuan mereka, itu bukan pembangunan, melainkan penghancuran peradaban,” tegasnya.
Ketua Presidium PMKRI Pematangsiantar, Fransisco Mezgion Hutauruk menanggapi keras terhadap fenomena dalam film tersebut. Menurutnya, pola-pola marjinalisasi masyarakat adat atas nama investasi adalah bentuk kolonialisme gaya baru yang nyata.
“Mahasiswa harus menyuarakan perlawanan Terhadap Kolonialisme Modern di Tanah Papua,” tegasnya sembari mengatakan, Film Pesta Babi adalah refleksi pahit para mahasiswa yang tidak boleh hanya menjadi penonton akademik.Tetapi, harus memiliki sensitivitas dan keberpihakan yang jelas kepada kaum termarjinalkan.
“Jika hari ini hutan Papua dirampas, bukan tidak mungkin besok tanah di sekitar kita yang akan menjadi korban atas nama kepentingan elit,” ujar Fransisco yang juga menyatakan, keterlibatan jaringan politikus, investor, bahkan oknum gereja dalam mendukung eksploitasi tersebut harus dikritisi gerakan mahasiswa.
“Mahasiswa dituntut untuk berani menyuarakan kebenaran di tengah relasi kuasa yang tidak seimbang antara negara-korporasi melawan masyarakat adat yang hanya bersenjatakan salib dan palang adat,” bebernya.
Nobar ini diakhiri dengan komitmen bersama anggota PMKRI Pematangsiantar untuk terus mengawal isu-isu konflik agraria dan hak asasi manusia. Dan, ruang intelektual akan terus digalakkan mahasiswa sebagai kompas moral membela hak-hak rakyat kecil yang kerap dikorbankan di atas altar pembangunan ekonomi. (Rel)






