Catatan: Imran Simanjuntak
Krisis demokrasi lokal yang terjadi dalam Musda KNPI Kota Pematangsiantar adalah cermin rapuhnya praktik demokrasi di tingkat daerah.
Ketika forum yang seharusnya menjadi wadah aspirasi justru dipenuhi tudingan money politic, intervensi elite, dominasi dan otoritarianisme kepanitiaan yang berujung pada upaya pengorbitan dualisme kepemimpinan.
Maka jelas ada yang salah dalam cara kita memaknai demokrasi. Demokrasi bukan sekadar prosedur memilih ketua, melainkan ruang untuk membangun legitimasi, kepercayaan, dan solidaritas.
Namun, di tengah krisis ini, pemuda tidak boleh kehilangan arah. Pemuda sebagai agen perubahan harus berdiri tegak, menolak tunduk pada intervensi kekuasaan, dan mengembalikan marwah organisasi kepemudaan sebagai rumah besar gagasan, bukan sekadar alat politik praktis.
KRITIK TERHADAP KEHILANGAN INDEPENDENSI PEMUDA
Independensi organisasi pemuda bukan sekadar simbol, melainkan fondasi bagi peran mereka sebagai agen perubahan. Ketika independensi itu hilang, pemuda tidak lagi berdiri sebagai kekuatan moral dan sosial, melainkan terjebak dalam pusaran kepentingan elite.
Kasus Musda KNPI Kota Pematangsiantar memperlihatkan bagaimana intervensi politik dapat merusak marwah organisasi kepemudaan, menciptakan krisis demokrasi lokal yang serius.
Organisasi pemuda yang kehilangan independensi akan mudah dijadikan kendaraan politik praktis. Mereka tidak lagi menyuarakan kepentingan masyarakat, melainkan kepentingan elite yang mengendalikan. Akibatnya, pemuda kehilangan fungsi kritis sebagai pengawas kekuasaan.
Di sisi lain terjadi erosi kepercayaan publik, masyarakat akan memandang pemuda sebagai perpanjangan tangan penguasa. Kepercayaan publik terhadap organisasi kepemudaan menurun drastis. Sehingga suara pemuda tidak lagi dianggap representatif kepentingan pemuda.
Akan tercipta polarisasi internal, ketika independensi hilang, organisasi pemuda mudah terpecah menjadi kubu-kubu yang saling berseberangan. Dimunculkannya dualisme kepemimpinan, dapat dilihat sebagai wujud penolakan akan sistem dan pengelolaan Musda, seperti yang terjadi di KNPI Siantar, adalah contoh nyata bagaimana intervensi politik memecah belah solidaritas pemuda.
Efek pola Normalisasi politik transaksional menggeser mindset pemuda. Pemuda yang terbiasa tunduk pada intervensi elite akan menganggap politik transaksional sebagai hal wajar. Ini berbahaya karena menciptakan generasi yang kehilangan idealisme dan terbiasa dengan praktik koruptif.
Pemuda akan kehilangan arah dan terjadi Stagnasi pembangunan sosial. Energi pemuda terserap dalam konflik internal, bukan diarahkan pada isu strategis seperti upaya peningkatan mutu pendidikan, lingkungan, ekonomi kreatif, atau pemberdayaan masyarakat. Akibatnya, peran pemuda dalam pembangunan lokal menjadi stagnan.
Dan yang lebih parah pemuda akan kehilangan orientasi generasi. Generasi muda yang seharusnya belajar demokrasi substantif justru tumbuh dalam budaya politik transaksional. Ini menciptakan siklus kepemimpinan rapuh yang sulit memajukan demokrasi.
Pemuda harus berani mengambil sikap, Bangkit sebagai penjaga independensi. Jangan biarkan suara pemuda dikendalikan oleh kepentingan sesaat. Menjadi jembatan rekonsiliasi. Pemuda harus mampu merajut kembali solidaritas yang retak, menyatukan visi lintas organisasi. Dan mampu menghidupkan pendidikan politik.
Pemuda harus belajar demokrasi substantif, bukan sekadar prosedural, agar tidak terjebak dalam politik transaksional.
Krisis demokrasi lokal bukan alasan untuk menyerah, melainkan panggilan sejarah bagi pemuda. Intervensi kekuasaan mungkin mencoba melemahkan independensi, tetapi pemuda yang berani akan menjadikannya momentum untuk membuktikan diri sebagai agen perubahan sejati.
Pemuda harus berdiri di garis depan, bukan sebagai pengikut elite, melainkan sebagai penggerak bangsa. Dari ruang lokal seperti KNPI Siantar, lahirlah energi yang mampu mengubah wajah demokrasi Indonesia. (Penulis : Akademisi/Tokoh Pemuda Kota Siantar)






