Sesuai tahapan Pemilu, mulai Minggu (11/2/2024) merupakan masa tenang sampai, selasa (13/2/2024) sebelum tiba hari pencoblosan memilih DPRD Siantar, DPRD Sumut, DPR RI, DPD dan Presiden, Rabu (14/2/2024).
Masa tenang, berarti tiada lagi kampanye seperti rapat terbuka dengan menampilkan artis maupun konser musik sebagai daya tarik bagi yang tertarik. Demikian juga kampanye melalui rapat tertutup pakai bisik-bisik tetapi suaranya malah begitu jelas terdengar.
Kemudian, katanya akan tiada lagi Alat Peraga Kampanye (APK) seperti poster, spanduk atau baliho karena sudah dibersihkan. Termasuk dibersihkan warga untuk diambil menjadi atap kandang ayam, kandang kambing atau kandang babi. Bahkan, untuk menutup atap gubuk bambu tengah ladang atau mengantisipasi seng bocor rumah kontrakannya.
Dengan selesainya masa kampanye, rapat terbuka maupun tertutup yang penuh dinamika, tentu masa tenang tidak lagi diawarnai dengan kerumunan massa yang kadang berisik meski tidak diberi atau diberi nasi bungkus, plus uang transportasi.
Kemudian, dengan mulai ditertibkannya APK yang selama ini begitu menyemak dan membuat kumuh, wajah kota Siantar yang sempat nyaris kehilangan bentuk, mulai bersih dari pemandangan yang tidak elok. Dan, pepohonan sebagai makluk hidup yang selama ini dipaku, mulai tenang meski ada mengalami cacat pada kulit.
Di masa tenang ini juga, terjadi perubahan yang membuat sebagian pihak merasa tenang. Tapi, di balik semua itu, di masa tenang ini juga malah banyak tidak tenang. Bukan karena kampanye telah berakhir dan APK telah ditertibkan itu.
Ketidaktenangan mereka terjadi saat hari pencobolosan semakin dekat apalagi sudah berada di ambang pintu. Terutama para Caleg yang telah mengeluarkan banyak kost atau biaya untuk memperoleh target suara.
Apalagi bagi yang mengeluarkan kost itu diperoleh dengan meminjam atau menggadaikan asset. Sehingga, akan diketahui apakah asset yang diborohkan atau digadaikan dapat kembali dimiliki setelah uang yang dipakai lunas dari gaji sebagai wakil rakyat.
Mereka yang tidak tenang, juga termasuk para personal Tim Pemenangan yang telah membantu penyaluran anggaran untuk penggalangan suara. Masalahnya, kalau target yang ditetapkan tidak sesuai harapan karena tingkat erornya sangat eror, personal yang memiliki moral harus bertanggungjawab secara moral.
Sedangkan yang kesampingkan tanggungjawab moral, mungkin saja lari dari kenyataan dengan berbagai dalih yang sebenarnya sudah dipersiapkan karena anggaran lebih banyak diendapkan di laci pribadi dari pada disalurkan sebagai penggalangan suara. Pasalnya, kapan lagi menangkap ikan dengan menangguk di air keruh pada Pemilu yang hanya berlangsung lima tahun sekali?
Semakin dekat hari pencoblosan, bagi mereka rasanya susah tidur apalagi mimpi indah yang belum diketahui apakah menjadi nyata. Sehingga, saat terjaga dari tidur, pandangan mata mungkin jadi nanar. Sehingga berusaha mencari kambing hitam yang banyak lari masuk hutan untuk menghilangkan jejak.
Ketika perhitungan suara selesai di Tempat Pemilihan Suara (TPS) dan diakumulasikan dengan perolehan di seluruh daerah pemilihan, tetapi jauh dari harapan, ketidaktenangan Caleg, termasuk Calon Presiden/Wakil Presiden (Capres/Cawapres) bakal memuncak sampai ke ubun-ubun. Sehingga, degup jantungnya bisa tidak selaras dengan dentak nadi.
Atau degup jantung itu malah berhenti seiring sepinya dentak nadi karena telah dijemput ajal meski itu sudah takdir. Atau ada yang penyakit bawaannya seperti darah tinggi kambuh lagi dan akhirnya stroke.
Mungkin ada juga yang tak tenang di masa tenang setelah perhitungan suara, lupa kemana kaki melangkah sampai tak mengetahui jalan pulang. Bahkan, lupa bahwa dia itu lupa. Sehingga, ada stigma menyatakan, politik yang dibilang kejam telah mengambil korban.
Selain para Caleg dan Tim Pemenangan, para ketua partai politik tentu tidak tenang juga ketika perolehan kursi partai di jajaran legislatif jauh dari harapan. Sebab, kursi ketua bakal diambil kader lain. Apalagi sang ketua sebagai incumbent malah tak dapat kursi di legislatif.
Terlepas Caleg, Tim Pemenangan, Ketua Parpol dan Capres/Cawapres yang tidak tenang di masa tenang, sebenarnya ada elemen lain yang juga merasa tidak tenang meski kadar ketidaktenangan mereka masih di bawah Caleg, Tim Pemenangan, Ketua Parpol dan Capres/Cawapres itu.
Mereka-mereka, kelompok berekonomi minim yang bertanya mengapa serangan fajar belum juga datang. Sehingga, malam sampai tiba pagi, berjaga-jaga menunggu ada oknum mengetuk pintu untuk membeli suara.
Dan, uang pembeli suara itu dibelikan beras, dimasak menjadi nasi. Dimakan berteman ikan asin atau tempe atau tahu maupun kerupuk sebagai pengganjal berjengkal-jengkal perut anak, istri agar tidak seperti gendang bila ditalu karena lapar.
Selain itu, tidak sedikit pula tidak tenang di masa tenang karena ada keragu-raguan pasca Pemilu 2024, terjadi ketidakpastian situasi yang membuat kebutuhan pokok seperti sembako menjadi langka dan akhirnya mahal. Bahkan, situasinya malah membuat aktifitas sehari-hari terganggu karena terjadi chaos?
Harapannya, Pemilu berlangsung jujur, adil, aman, damai dan Indonesia sebagai rumah ku, rumah mu dan rumah kita sebagai anak negeri, tetap baik-baik saja dan lebih baik dari kondisi sebelumnya.
PENUTUP
Wahai jiwa-jiwa yang sedang tidak tenang di masa tenang karena yang pasti adalah ketidakpastian, tenang dan tenang serta tenanglah dalam ketidaktenangan. Karena, meski sudah berusaha keras, garis tangan juga yang menentukan… (Penulis: Pemimpin Redaksi senternews.com)






