SIANTAR, SENTERNEWS
Kota Siantar memiliki potensi untuk dijaikan sebagai kota wisata kopi dengan market lokal, turis nasional dan mancanegara. Hanya saja, perlu komitmen bersama diantara sesama komunitas para anak mud sebagai pelaku ekonomi kreatif.
Pernyataan itu disampaikan, Anggota DPR RI Komisi VII, Raja Bane Manalu melalui Workshop Menggali Potensi Kopi sebagai Daya Tarik dalam Penyelenggaraan Event Nasional yang dilaksanakan Kementrian Pariwisata RI Deputi V Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan/Event).
Pada kegiatan yang berlangsung Hotel Grand Zuri, Kota Siantar dengan peserta anak muda pelaku ekonomi kreatif itu, Raja bane mengatakan, awalnya tidak perlu harus mengharap bantuan pemerintah. Tetapi, bentuk dulu komunitas yang kuat.
Ketika sudah berkembang dan punya identitas, dengan market warga lokal dan turis mancanegara, pemerintah akan datang sendiri memperhatikan.
“Banyaknya warung kopi merupakan punya potensi menjadi Siantar sebagai kota wisata kopi. “Jadikan Siantar sebagai kota wisata kopi meski bahan baku dari luar tetapi diolah dengan berbeda,” katanya lagi.
Untuk itu, para penguasa kopi harus serius dan butuh kesungguhan menciptakan branding dengan logo, luks dan line. Membentuk group sesama pengelola pengusaha kopi atau pengelola warung kopi.
“Dengan hadirnya Kementrian Pariwisata maka akses sudah terbuka dan manfaatkan akses itu,”kata Raja Bane Manalu.
Sebelumnya, Hamam Soleh sebagai Kadis Pariwisata Pematangsiantar mengatakan, Kota Siantar belum punya badan event Pariwisata yang baku untuk masuk dalam kalender tahunan wisata. Tetapi siap berkolaborasi.
“Kendala pengembangan Pariwisata kota Pematangsiantar untuk gelar event yang masuk kalender terkait soal anggaran,” ujarnya.
Roy Purba mengelola Dear Kopi Jalan Sudirman Kota Siantar sebagai nara sumber mengatakan, Sebelum mengelola Dear Kopi, pernah menjadi guide turis mancanegara untuk dibawa ke berbagai lokasi wisata di Sumatera Utara.
Ternyata, kopi menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis. Sehingga, terinspirasi membuat paket wisata kopi dan itu diperkuat dengan strategi marketing memanfaatkan berbagai media sosial.
“Menjadikan Kota Siantar sebagai kota wisata kopi perlu konsistensi dari pengelola kopi agar lebih kreatif dan memiliki komunitas agar mendapat dukungan dari pemerintah kota serta Kementrian Pariwisata,” ujarnya.
Sementara, Ni Komang Ayu Astiti, Asisten Deputi V Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan/Event mengatakan, Workshop itu diinisiasi Raja Bane Manalu anggota DPR RI Komisi VII asal Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun dan Pematangsiantar punya potensi kopi untuk diberdayakan sebagai daya tarik pariwisata
“Kuncinya, kolaborasi dan itu sangat penting, harus smart dan lebih dulu tampilkan potensi dengan komunitas dan pemerintah daerah harus punya komitmen membuat program,” bebernya.
Apabila sudah punya identitas dan punya program yang kuat, ajukan kepada Kementrian Pariwisata untuk dipelajari sejauh mana dampak pergerakan ekonomi UMKM sehingga dapat didukung.
Selain itu, Kementrian Pariwisata bisa lakukan promosi dan publikasi peliputan yang bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri atau Kementrian Pariwisata dapat memberi surat legalitas untuk didukung pihak ketiga.
Whorkshop juga diwarnai dengan tanya jawab dan dijawab para nara sumber dengan komunikatif. Dengan harapan, potensi Siantar sebagai kota wisata kopi dapat terwujud. (In)






