(Mengupas Hadits Tentang Nikmat Sehat dan Waktu Luang Sebelum Datangnya Sakit dan Sibuk)
Oleh : Hendri Yahya Saputra MPd
Dalam perspektif ekonomi dan manajemen modern, salah satu tantangan terbesar manusia di abad ke-21 adalah ketidakmampuan mengelola aset tidak berwujud (intangible assets).
Kita seringkali sangat jeli menghitung nominal uang, mengukur luas tanah, atau menghitung laba rugi bisnis. Namun, kita kerap kali buta dan abai terhadap dua modal terbesar yang diberikan Allah kepada kita secara cuma-cuma.
Padahal, empat belas abad yang lalu, Baginda Rasulullah SAW telah mengeluarkan sebuah tesis psikologi sosial yang sangat mendalam mengenai perilaku manusia terhadap dua aset ini. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits sahih yang artinya: “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dan merugi di dalamnya: yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari, No. 6412)
Perhatikan diksi yang digunakan Nabi: (Maghbun). Dalam istilah fiqih mu’amalah, maghbun berarti kerugian dalam transaksi jual beli karena seseorang membeli barang dengan harga yang terlampau mahal atau menjual aset berharga dengan harga yang terlampau murah.
Rasulullah ingin mengatakan bahwa mayoritas manusia adalah “pebisnis yang bangkrut” dalam mengelola kehidupan mereka karena menukar kesehatan dan waktu luang dengan hal-hal yang tidak bernilai di hadapan Allah.
Mari kita bedah secara detail dengan pendekatan sains dan agama kedua nikmat ini:
Pertama, Nikmat Sehat:
Secara sosiologis, kita hidup di era di mana kesehatan sering kali baru dihargai ketika ia telah hilang. Ketika tubuh ini sehat, kita menggunakannya untuk bekerja tanpa batas, memakan apa saja tanpa aturan, bahkan terkadang melangkah ke tempat-tempat yang dimurkai Allah.
Islam memandang kesehatan bukan sekadar bebas dari penyakit biologis, melainkan modal utama untuk beribadah dan menebar manfaat.
Berapa banyak orang yang hari ini terbaring di rumah sakit, mengeluarkan jutaan hingga miliaran Rupiah hanya untuk membeli kembali sepotong nikmat sehat agar bisa sujud dengan nyaman, namun mereka tidak lagi memiliki kesempatan itu.
Kita lupa bahwa organ tubuh ini memiliki batas empiris, memiliki hak untuk diistirahatkan, dan memiliki pertanggungjawaban di akhirat kelak dihadapan gusti Allah SWT.
Sabda Nabi Muhammad Saw, setidaknya ada empat yang pasti akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan” (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).
Kedua, Nikmat Waktu Luang:
Dalam teori manajemen waktu, tantangan terbesar masyarakat digital hari ini bukanlah kekurangan waktu, melainkan fragmentasi waktu akibat distorsi teknologi.
Kita merasa sibuk, padahal kita hanya terjebak dalam scrolling media sosial tanpa arah, terperangkap dalam game online, atau terjerumus dalam diskusi-diskusi yang tidak produktif.
Waktu luang sering kali dianggap sebagai “waktu kosong yang harus dihabiskan”, bukan “ruang investasi yang harus diisi”.
Padahal waktu adalah dimensi yang berjalan linear. Ia tidak bisa diputar kembali, tidak bisa disimpan, dan tidak bisa didevaluasi. Setiap detik yang hilang adalah bagian dari umur kita yang berkurang menuju liang lahat.
Mengapa kita sering merugi? Karena sifat dasar psikologis manusia cenderung menunda-nunda (procrastination). Kita selalu berpikir, “Nanti kalau sudah sukses baru ibadah,” atau “Nanti kalau sudah pensiun baru ke masjid,” atau “Nanti kalau sudah kaya baru bersedekah.”
Nabi SAW memotong rantai ilusi tersebut melalui nasihatnya yang sangat taktis yang artinya: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: Mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim).
Secara akademik, ini adalah formula risk management (manajemen risiko) terbaik. Sebelum badai kesibukan melanda, sebelum fisik ini dilemahkan oleh usia dan penyakit, bangunlah portofolio amal saleh kita.
Jadikan waktu sehat kita sebagai laboratorium untuk menghasilkan karya-karya sosial yang bermanfaat. Jadikan waktu luang kita sebagai ruang untuk belajar, membaca (Iqra’), dan mengabdi kepada masyarakat.
Mari kita renungkan dalam diri kita masing-masing. Evaluasi kembali bagaimana kita menghabiskan 24 jam dalam sehari.
Apakah sisa umur kita hari ini didominasi oleh hal-hal yang mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, ataukah kita sedang berjalan pelan menuju kebangkrutan hakiki yang telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW? Semoga bermanfaat. (Penulis : Dosen STAI Samora Pematangsiantar)







