SIANTAR, SENTERNEWS
Siang hari yang cerah itu, Jumat (31/1/2025), lokasi peternakan Lebah Madu Flora Nauli Group di Kelurahan Setia Negara, Kecamatan Siantar Sitalasari, Kota Siantar, ramai dengan para pelajar putri berseragam putih biru panjang berkerudung, Jumat (40/1/2025).
Ketika dicermati, ternyata mereka 166 santriwati tingkat SMA dan SMP Galih Agung, Pesantren Darul Arafah Raya, Desa Lau Bakeri, Kecamatan Kutalim Baru, Deli Serdang. Datang berkunjung bersama para guru dan kepala sekolah.
Aam Hasanuddin sebagai pimpinan peternakan Lebah Madu Flora Nauli Group langsung menyambut kedatangan rombongan. Didampingi para staf, Rohmandan Budi TR. Anggota DPRD Siantar, Sabariah Harahap sebagai istri Aam Hasanuddin dan putranya Ahmad Rasyid berstatus mahasiswa di AMIK Kota Siantar.

Kepada para santriwati itu, dijelaskan bahwa pengembangan ternak madu lebah sejak tahun 2015 saat Aam Hasanuddin sebagai pegawai Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli (Sekarang Balai Penerapan Standart Instrumen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli).
“Tanggal 8 Agustus 2024 lalu, saya menerima penghargaan dari Asosiasi Perlebahan Indonesia sebagai Intruktur Andalan Nasional untuk Budi Daya Lebah Apis dan Lebah Kelulut,” ujar pria asal Majalengka Jawa Barat yang sudah 37 tahun tinggal di Kota Siantar itu.
Selanjutnya, Rohman yang tahun 2010 menjalani pendidikan latihan (Diklat) bersertifikasi dan sudah berkunjungke berbagai daerah, menjelaskan berbagai hal tentang peternakan lebah madu di Flora Nauli Group.
“Dalam satu koloni, dihuni tiga kasta lebah. Ratu, Pejantan dan Pekerja. Pejantan mengawani ratu untuk menghasilkan telur. Lebah pekerja terbang mencari makan dari berbagai pepohonan dan bunga-bunga,” papar Rohman memperlihatkan wadah penangkaran lebah.
Lebah ratu bertelur antara 1000 sampai 2400 butir perhari dengan usia lima sampai enam tahun namun usia produktif sekitara 3 tahun. Lebah pekerja berusia enam sampai delapan minggu. Sedangkan lebah pejantan akan mati setelah mengkawini ratu di udara.

Pada kesempatan itu, para santriwati dan guru dipersilahkan mencicipi madu hasil lebah bersengat dan tidak bersengat dengan cita rasa manis dan asam. Bahkan, ada tanya jawab yang begitu komunikatif. Basi santriwati yang berhasil menjawab pertanyaan diberi hadiah madu.
Di sela-sela para santriwati mengamati kotak penangkat lebah madu yang jumlahnya mencapai 100 kotak di areal penangkatan, Kepala Sekolah SMA dan SMP Galih Agung mengatakan para santriwati yang melakukan kunjungan itu, merupakan siwi yang berprestasi dari setiap kelas.
“Kunjungan yang ini pada dasarnya, jalan-jalan sekaligus menimba ilmu untuk pendidikan ekonomi,” kata Al-Ustadz Mahmud Alkudri kepala SMA Galih Agung.
Kepala SMP Galih Agung, Al-Ustadz Nirwansyah mengatakan senada. Setelah selesai melakukan kunjungan, para santriwati akan membuat jurnal dari hasil studi untuk dievaluasi. Bagi yang benar-benar memahami akan dilakukan pendalaman.
Usai melakukan kunjungan, para santriwati, guru dan pengelola Flora Nauli Group melakukan poto bersama. Bahkan, tidak sedikit para santriwati dan guru berpotho sambil memegang wadah atau sarang lebah yang diternak tanpa rasa takut. (In)






