SIANTAR, SENTERNEWS
Netty Sianturi ketika muda tidak pernah membayangkan masuk dunia politik. Namun, ketika diperkenalkan dengan dunia politik dan mendalaminya, akhirnya berhasil menjadi salah satu wakil rakyat di DPRD Siantar Priode 2019-2024.
Netty Sianturi merupakan perempuan pertama di Kota Siantar menjadi ketua partai politik. Persisnya Ketua DPC Partai Gerindra Kota Siantar tahun 2017. Melalui partai politik besutan Prabowo Subianto yang saat ini bakal dilantik menjadi Presiden RI itu, banyak hal yang bisa dilakukannya sebagai suatu pengabdian kepada masyarakat.
“Selain mengabdi memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui lembaga legislatif, kita juga bisa memberi saran dan kritik kepada Pemko Siantar,” ujar mantan Pragamugari Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia itu.
Perempuan kelahiran Siborong-borong Tapanuli Utara yang sekolah di SMA dan kuliah di Jakarta untuk meraih gelar BBA dan melanjut meraih gelar sarjana Administrasi itu mengatakan, kota Siantar yang dikenal dengan keberagaman suku, agama maupun golongan, sangat indah.
“Perbedaan suku, agama dan golongan sebagai ciri khas, membuat Siantar menjadi salah satu kota paling toleransi di Indonesia. Ini harus terus ditingkatkan dan keberagaman itulah menjadi kekuatan bagi Kota Siantar,” ujarnya.
Dijelaskan, pembangunan Kota Siantar memang sudah baik. Namun, tetap butuh polesan tangan-tangan trampil agar lebih baik dan lebih maju. Terutama sektor pendidikan. Karena, Siantar pernah disebut sebagai kota pendidikan dan kejayaan itu harus diraih kembali dengan membangun sekolah berkualitas. Terutama sekolah-sekolah kejuruan agar orang luar daerah, datang bersekolah di Siantar seperti masa sebelumnya.
Selanjutnya, Siantar sebagai kota jasa, wajib diperkuat dengan membenahi pasar tradisional seperti Pasar Horas dan Pasar Dwikora atau Pajak Parluasan sebagai basis kekuatan ekonomi kerakyatan. Namun, karena kondisinya memprihatinkan, pedagang kehilangan pembeli.
“Kalau saya turun ke Pajak Parluasan maupun Pasar Horas, saya mendengar keluhan para pedagang karena kehilangan pembeli. Untuk itu, kenyamanan pengunjung untuk berbelanja ke pasar tradisional harus menjadi prioritas,” imbuhnya.
Terkait soal anggaran pembenahan pasar tradisional, Netty yang bergabung di Komisi II, yang salah satunya membahas keberadaan pasar tradisional mengatakan, Pemko Siantar harus berusaha melakukan lobby kepada pemerintah pusat untuk memperoleh anggaran.
“Beberapa waktu lalu, ada anggaran dari Kementrian Perdagangan untuk revitalisasi Gedung IV Pasar Horas, itu tentu sangat positif. Tapi, sampai saat ini belum jelas pembangunannya,” kata Netty yang juga prihatin bahwa robohnya atap balairung pedagang ikan laut Pasar Dwikora akhir 2023 lalu, belum juga dibenahi.
Hal lain yang menjadi salah satu perhatian selain beberapa sektor lain sebagai potensi kota Siantar, Netty ternyata kerap sharing dengan kelompok tani khususnya di Kecamatan Siantar Marihat dan Kecamatan Siantar Simarimbun yang memiliki hamparan persawahan.
“Soal pupuk dan obat-obatan yang dibutuhkan petani, saya ketahui sering bermasalah. Terutama pupuk bersubsidi. Untuk itu, ini harus diperhatikan agar hasil panen petani lebih baik dan keuntungan yang diperoleh sesuai harapan,” ujarnya.
CALON WAKILOTA/WAKIL WALIKOTA
Terkait tahun politik pemilihan kepada daerah (Pilkada) Walikota/Wakil Walikota Siantar, 27 November 2024 mendatang, ternyata menjadi perhatian Netty Sianturi. Harapannya, Walikota/Wakil Walikota pilihan rakyat harus berkualitas dan memang orang Siantar.
“Orang Siantar tentu mengetahui bagaimana permasalahan kota Siantar. Sehingga, mengetahui benar bagaimana membenahinya. Untuk itu, rakyat harus cerdas karena masa depan kota Siantar ada pada rakyat melalui Pilkada,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah berminat maju menjadi Walikota/ Wakil Walikota, dari selah bibirnya tersungging senyum manis. Karena, ternyata ada sejumlah pihak menginginkannya maju pada Pilkada. Bahkan, secara jujur mengaku sudah ada yang mengajaknya untuk maju.
“Ya, sudah ada mengajak saya maju pada Pilkada dan saya meresponnya dengan positif. Tapi, semua tergantung dukungan. Baik dari partai politik yang memang mendorong saya, maupun dari masyarakat kota Siantar,” ujarnya.
Netty yang memiliki beberapa usaha dan tidak pernah memiliki masalah soal materi itu mengatakan, menjadi Walikota/Wakil Walikota juga merupakan suatu pengabdian. “Kita lihatlah, dalam waktu dekat saya akan memutuskan maju pada Pilkada atau tidak,” imbuhnya.
Namun, meski tidak menjadi anggota dewan atau tidak menjadi Walikota/Wakil Walikota, perempuan berkulit bening itu mengatakan, siapa saja tetap dapat mengabdi untuk masyarakat dan Kota Siantar tercinta. (In)






