SIANTAR, SENETERNEWS
Kondisi Pajak Hongkong di Jalan Diponegoro, di tengah areal perkotaan Siantar yang pernah menjadi pusat jajan dan pusata penjualan buku serta lainnya di kota Siantar, semakin terpuruk. Pada pagi hari seperti saat ini, para pelaku usaha semakin kehilangan pembeli.
“Sejarah perkembangan kota Siantar tidak lepas dari keberadaan Pajak Hongkong yang pernah memberi nilai positif kepada masyarakat. Kalau sekarang? Pajak Hongkong semakin tergilas jaman,” kata Irma Siregar, salah seorang pedagang makanan, Sabtu (07/12/2024).
Irma yang orang tuanya pengelola Rumah Makan Siregar Bersaudara sejak tahun 1964 itu mengatakan, di masa pajak Hongkong mengalami masa kejayaan, warga kota Siantar sepertinya tidak ada yang tidak mengenal Pajak Hongkong sebagai pusat jajan pagi untuk serapan.
Bahkan, masyarakat dari luar kota ramai menikmati makanan khas yang diantaranya, bubur kacang hijau pulut, pulut serundeng, lontong sayur dan lontong kacang dan berbagai jenis gorengan khas. Selain ada dinikmati di tempat, tidak sedikit yang membawanya pulang.
Selain itu, Pajak Hongkong merupakan lokasi terbesar peredaran surat kabar sebelum disalurkan ke berbagai kecamatan di Kabupaten Simalungun. Sehingga, sebelum subuh tiba, masyarakat sudah ramai menunggu surat kabar di Pajak Hongkong sambil menikmati serapan pagi.
“Pajak Hongkong di era pasca kemerdekaan sampai akhir tahun 190-an menjadi lokasi alternatif untuk serapan pagi. Siang harinya juga ramai karena banyak penjual buku bekas dan buku baru, penyewa komik, novel dan warung kopi tetap buka termasuk warung nasi seperti punya bapak saya Siregar Bersaudara,” kata Irma.
Namun, pada perkembangan selanjutnya, kejayaan Pajak Hongkong semakin pudar. Karena pengunjung semakin sepi dan para pelaku usaha kecil kehilangan pembeli, sulit untuk membayar kios yang disewa pedagang.
Hal senada disampaikan para pedagang lainnya. Kondisi Pajak Hongkong yang semakin sepi membuat pedagang sulit meningkatkan penghasilan. Apalagi pada pukul 11.00 Wib sudah sepi hingga akhirnya pedagang makanan lebih cepat tutup. Selain itu, banyak kios yang sudah tidak dibuka lagi.
Untuk itu, Walikota terpilih hasil Pilkada 2024, diharap mendengar keluh kesah pedagang agar mengembalikan masa kejayaan Pajak Hongkong. Misalnya, dapat menciptakan suasana kota Siantar pada malam hari menjadi ramai.
“Kalau sekarang, habis magrib sudah sepi dan toko-toko banyak tutup. Kalau Siantar pada malam hari bisa ramai, perekonomian masyarakat khususnya di sekitar Pajak Hongkong tentu bisa hidup,” kata pedagang lainnya.
Terkait bagaimana upaya yang dilakukan untuk menciptakan kota Siantar ramai pada malam hari, para pedagang mengatakan tergantuing strategi atau terobosan yang dilakukan Walikota. (In)






