SIANTAR, SENTERNEWS
Pamatang di Kelurahan Simalungun, Kecamatan Siantar Selatan yang dulu disebut Pulau Holing, lokasi kerajaan Siantar dengan dinasti terakhir Sang Naualuh Damanik, sangat strategis diberdayakan sebagai lokasi wisata sejarah dan budaya.
Pernyataan itu disampaikan, Andika Prayogi Sinaga SE anggota DPRD Siantar dari Fraksi Nurani Keadilan. “Pamatang merupakan titik awal adanya kota Siantar yang sangat strategis diberdayakan mendukung sektor pariwisata kota Siantar,” katanya, Selasa (17/12/2024).
Dari hasil pemantauan dan perbincangan dengan sejumlah warga dan tokoh masyarakat Pamatang, Adika Prayogi Sinaga mengetahui, masih banyak ditemukan situs sejarah peninggalan Raja Sang Naualuh Damanik yang diasingkan ke Bengkalis karena menentang kolonial Belanda.
Situs sejarah yang masih tersisa itu perlu diinventarisir sebagai suatu kekayaan sejarah maupun budaya. Apalagi saat ini sudah ada Peraturan Daerah (Perda) Pematangsiantar No 1 Tahun 2021 tentang Pelestarian dan Pengelolaan Cagar Budaya.
“Salah satu ketentuan pada Perda No 1 Tahun 2021, benda, bangunan atau struktur cagar budaya itu, apabila sudah berusia 50 tahun ke atas yang memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama atau kebudayaan,” kata Andika Prayogi.
“Kita mengetahui, apabila jalan tol Medan Parapat beroperasi, kota Siantar bisa menjadi kota mati karena tidak akan dilintasi. Untuk itu, Siantar harus punya daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke Siantar. Salah satunya, memberdayakan sektor wisata sejarah dan budaya di Pamatang itu,” katanya.
Lebih strategis lagi, Andika Prayogi berobsesi menjadikan Pamatang sebagai “Kampung Wisata” yang didata sedemikian rupa. “Informasinya, di tepi Sungai Bah Bolon Pamatang itu, ada lokasi pemandian permaisuri kerajaan Siantar. Mungkin tidak banyak yang mengetahui itu,” katanya.
Selain itu, ada bangunan bersejarah lain yang tidak lepas dari perjalanan sejarah Raja Sang Naualuh Damanik. Termasuk makam-makam kuno yang masih bisa digali. Sedangkan Pabrik Es yang berdiri tahun 1916, salah satu peninggalan Kolonial Belanda yang masih ada.
“Minuman Cap Badak produksi Pabrik Es di Pamatang itu lebih tua dari usia minuman Cocacola,” jelas Andika yang juga dikenal sebagai tokoh Pemuda Pancasila Kota Siantar.
Sebagai “Kampung Wisata” didirikan sanggar seni budaya yang siap menyambut tamu dengan tari-tarian yang datang berkunjung. Kemudian, ada sanggar seni bela diri silat atau Dihar. Sanggar kerajinan yang hasilnya menjadi cendramata bagi para wisata untuk dibawa pulang.
Untuk menjadikan Pamatang sebagai “Kampung Wisata” menurut Andika Prayogi tidak sulit. Pastinya harus ada rencana dan masyarakatnya harus dibina dan ditempa untuk memiliki kesadaran wisata yang tinggi tentang wisata sejarah dan budaya.
“Yang penting, Pemko harus punya kemauan kuat. Kalau soal masyarakat atau sumber daya manusia tentu bisa dilatih. Masayarakat bisa diajak melakukan studi ke berbagai daerah wisata yang sudah terkenal,” kata Andikia Prayogi lagi.
Karenanya, Pemko Siantar melalui institusi terkait perlu melakukan kajian khusus. Sehingga, kekayaan sejarah maupun budaya Kota Siantar dapat dimunculkan ke permukaan sebagai pendukung sektor pariwisata. Sekaligus sebagai identitas kota Siantar yang berbudaya. (In)






