Penulis : Imran Simanjuntak MA (Dosen STAI SAMORA Pematangsiantar)
Tulisan ini menganalisis serangan terhadap Budiman Sudjatmiko sebagai bagian dari strategi delegitimasi terhadap aktivis yang memasuki ruang kekuasaan.
Dalam konteks meningkatnya ketidakpercayaan publik terhadap negara, terutama terkait proyek strategis nasional, korupsi sistemik, dan kembalinya dominasi militer, gerakan mahasiswa kembali menjadi aktor penting dalam dinamika politik.
Namun, gerakan ini berada dalam pusaran kepentingan elite dan oligarki yang berusaha mengendalikan arah perlawanan rakyat. Serangan terhadap Budiman dipahami sebagai upaya sistematis untuk menghapus memori kolektif tentang aktivisme masa lalu.
Sekaligus melemahkan figur-figur baru seperti Tiyo Ardianto yang mulai mendapat perhatian publik.
Artikel ini menggunakan kerangka teori oligarki, memori kolektif, dan politik delegitimasi untuk menjelaskan bagaimana serangan terhadap figur historis berfungsi sebagai mekanisme kontrol terhadap gerakan rakyat dan mahasiswa.
Indonesia tengah berada dalam fase krisis legitimasi publik. Kritik terhadap negara meningkat seiring dengan kontroversi seputar proyek strategis nasional seperti MBG, KMP, Kereta Cepat, serta korupsi yang massif dan kembalinya dominasi militer dalam berbagai sektor pemerintahan, juga merambah pada wilayah sipil yang meluas.
Kondisi ini memunculkan gelombang ketidakpuasan rakyat yang semakin vokal, terutama di ruang digital. Dalam situasi tersebut, gerakan mahasiswa kembali bangkit sebagai kekuatan moral dan politik.
Demonstrasi massif yang terjadi belakangan ini menunjukkan potensi konsolidasi gerakan rakyat yang lebih luas. Namun, gerakan ini tidak steril dari kepentingan elite.
Setiap momentum protes selalu menjadi arena perebutan pengaruh antara kelompok politik, modal, dan negara.
Dalam konteks inilah serangan terhadap Budiman Sudjatmiko harus dipahami. Ia bukan sekadar kritik terhadap individu, tetapi bagian dari strategi delegitimasi yang lebih luas terhadap aktivis yang memasuki ruang kekuasaan.
Serangan ini juga memiliki implikasi terhadap figur-figur baru seperti Tiyo Ardianto, mantan Ketua BEM UGM, yang kini menjadi salah satu suara kritis paling diperhatikan publik.
Teori Oligarki dan Kontrol Politik
Dalam teori oligarki, kekuasaan negara tidak hanya ditentukan oleh institusi formal, tetapi juga oleh modal ekonomi yang mengendalikan arah kebijakan dan opini publik.
Oligarki beroperasi melalui kontrol media,pendanaan politik,dan pengaruh terhadap institusi negara.
Delegitimasi terhadap aktivis yang masuk sistem merupakan strategi untuk menjaga agar ruang kekuasaan tetap steril dari aktor independen.
Teori Memori Kolektif
Memori kolektif adalah konstruksi sosial tentang masa lalu yang membentuk identitas politik suatu bangsa. Figur seperti Budiman berfungsi sebagai penanda sejarah (memory carrier) yang mengingatkan publik pada perjuangan melawan otoritarianisme. Menghapus legitimasi figur seperti ini berarti menghapus memori kolektif tentang perlawanan.
Teori Delegitimasi Aktivis
Delegitimasi adalah proses sistematis untuk menghilangkan otoritas moral seseorang melalui, pelabelan negatif, distorsi sejarah, dan amplifikasi narasi melalui media dan algoritma.
Delegitimasi aktivis yang berada dalam sistem bertujuan untuk mencegah regenerasi kepemimpinan yang berbasis idealisme.
Konteks Politik: Negara dalam Krisis Legitimasi
Kritik publik terhadap negara saat ini meningkat karena beberapa faktor, kontroversi proyek strategis nasional, korupsi yang massif hampir di segala lini, dominasi militer dalam sektor sipil, dan ketimpangan ekonomi yang semakin tajam. Situasi ini menciptakan ruang perlawanan rakyat yang semakin besar.
Gerakan mahasiswa menjadi katalis utama dalam dinamika ini. Namun, negara dan oligarki melihat potensi ini sebagai ancaman terhadap stabilitas kekuasaan.
Analisis: Serangan terhadap Budiman sebagai Strategi Delegitimasi
Menghapus legitimasi moral aktivis senior Budiman Sudjatmiko adalah simbol aktivisme era 1990-an. Ia membawa memori kolektif tentang perjuangan melawan otoritarianisme. Melabelinya sebagai “pengkhianat” adalah cara untuk memutus hubungan antara sejarah perjuangan dan politik hari ini, menghapus otoritas moral aktivis dalam sistem, menciptakan preseden bahwa aktivis yang masuk sistem pasti kehilangan idealisme. Ini adalah bentuk pembunuhan karakter berbasis memori.
Mengendalikan Arah Gerakan Mahasiswa
Gerakan mahasiswa yang massif berpotensi menjadi gerakan rakyat. Negara dan oligarki berusaha mengendalikan arah gerakan ini dengan menciptakan musuh bersama palsu, mengalihkan fokus dari isu struktural ke figur personal, memecah konsolidasi gerakan melalui polarisasi. Serangan terhadap Budiman berfungsi sebagai distraksi politik.
Menghalangi Regenerasi Aktivis dalam Sistem.
Jika aktivis senior dapat dihancurkan reputasinya, maka aktivis muda akan takut masuk sistem. Ini menguntungkan oligarki karena ruang kebijakan tetap dikuasai elite, tidak ada infiltrasi idealisme ke dalam struktur negara, gerakan mahasiswa kehilangan jalur transformasi politik.
Implikasi Erosi Daya Kritis Aktivis Baru
Serangan terhadap Budiman menciptakan narasi bahwa aktivis yang masuk sistem pasti berkhianat. Ini berdampak langsung pada Tiyo Ardianto, yang kini menjadi figur kritis yang diperhatikan publik.
Kritiknya dapat dianggap tidak otentik karena preseden delegitimasi yang sudah dibangun. Pengaburan Peran Aktivis dalam sistem delegitimasi terhadap Budiman menciptakan dilema bagi aktivis baru, jika tetap kritis, dianggap tidak memahami realitas politik, jika adaptif, dianggap berkompromi. Ini melemahkan posisi Tiyo sebagai aktor aktivis politik baru.
Pelemahan Gerakan Rakyat dan Mahasiswa
Dengan melemahkan simbol masa lalu (Budiman) dan simbol masa kini (Tiyo), oligarki berhasil, memutus kesinambungan gerakan, menghilangkan figur rujukan moral, dan mengendalikan arah perlawanan rakyat.
Delegitimasi terhadap aktivis adalah bagian dari strategi besar untuk menjaga stabilitas kekuasaan, mengontrol narasi publik, dan memastikan bahwa gerakan rakyat tidak pernah menjadi ancaman nyata.
Serangan terhadap Budiman adalah serangan terhadap memori kolektif, sedangkan implikasinya terhadap Tiyo adalah serangan terhadap masa depan gerakan.
Serangan terhadap Budiman Sudjatmiko tidak dapat dipahami sebagai konflik personal atau perbedaan pilihan politik. Ia adalah bagian dari strategi delegitimasi yang lebih luas, yang bertujuan untuk menghapus memori kolektif tentang perjuangan demokrasi, melemahkan legitimasi aktivis dalam sistem, dan mencegah munculnya figur-figur baru seperti Tiyo Ardianto yang dapat menjadi katalis perubahan.
Dengan demikian, delegitimasi ini merupakan mekanisme kontrol oligarki untuk memastikan bahwa gerakan rakyat dan mahasiswa tetap berada dalam batas yang dapat dikendalikan. (**)







