Oleh: Cynthia SPd MM
Di zaman sekarang, kita sering mendengar, bahkan mungkin menyaksikan sendiri, peristiwa bullying atau perundungan.
Mulai dari ejekan, panggilan nama buruk, pengucilan, penyebar gosip, hingga kekerasan fisik dan ancaman.
Sayangnya, banyak orang menganggap bullying hanya “canda biasa”, gurauan, hiburan. Bahkan “masalah sepele”, atau “bagian dari pergaulan” sebagai suatu hiburan.
Padahal, bullyng dapat menyakiti, menghina, merendahkan atau mengganggu kehormatan orang lain. Sehingga, dalam pandanagana Islam, bullying adalah dosa besar, bentuk kezaliman, dan pelanggaran hak asasi manusia yang sangat dibenci Allah SWT.
Secara sederhana, bully adalah segala bentuk tindakan atau perilaku yang dilakukan dengan sengaja untuk menyakiti, merendahkan, mengintimidasi, atau merugikan orang lain yang dianggap lebih lemah, baik secara fisik, mental, maupun emosional.
Tindakan ini dilakukan berulang kali atau terus-menerus, dan biasanya terjadi karena adanya ketimpangan kekuasaan, si pelaku merasa lebih kuat, lebih banyak teman, atau memiliki posisi yang membuatnya merasa bebas bertindak sewenang-wenang.
Bully tidak hanya berupa kekerasan fisik saja, melainkan ada beberapa jenis:
1.Bully Fisik
Contoh: Memukul, menendang, mendorong, mencubit, merusak barang milik orang lain, atau mengambil barang secara paksa.
2.Bully Verbal
Contoh: Mengejek, memanggil dengan nama buruk, menghina rupa, keadaan ekonomi, atau kekurangan fisik, mengancam, serta menyebarkan gosip bohong. Ini adalah jenis yang paling sering terjadi dan sering dianggap sepele.
3.Bully Sosial / Psikis
Contoh: Mengucilkan seseorang dari pergaulan, melarang teman lain bergaul dengannya, memandang rendah, atau membuat orang lain merasa tidak berharga.
4.Bully Daring (Cyberbullying)
Contoh: Menghina atau menyebarkan aib lewat media sosial, mengirim pesan ancaman, atau menyebarkan foto/video tanpa izin untuk mempermalukan orang lain.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok lebih baik daripada mereka yang mengolok. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok perempuan lain. Janganlah kamu saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” Ayat ini secara tegas melarang ejekan, hinaan, dan pemberian julukan yang menyakitkan.
Dalam Islam, bully disebut sebagai perbuatan zalim, menyakiti sesama, dan melanggar hak orang lain. Syariat Islam melarang keras segala bentuk tindakan ini, karena:
1.Menyakiti hati atau tubuh sesama manusia adalah dosa yang besar.
2.Merusak keharmonisan persaudaraan yang diwajibkan oleh Allah SWT.
3.Bukan hanya berdosa di dunia, tetapi akan dimintai pertanggungjawaban yang berat di akhirat kelak.
Rasulullah bersabda:
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya terancam, dan tidak meremehkannya.” (HR. Muslim)
Secara umum, kebiasaan membully bukanlah sifat bawaan lahir, melainkan terbentuk karena berbagai faktor berikut:
1.Faktor Psikologis dan Kondisi Diri
a.Ingin merasa berkuasa dan dihormati.
Seringkali orang yang membully sebenarnya merasa kurang percaya diri, lemah, atau merasa tidak berharga.
Dengan merendahkan atau menyakiti orang lain, mereka merasa dirinya lebih kuat, lebih tinggi derajatnya, dan mendapatkan perhatian atau takut dari orang lain. Ini adalah cara salah untuk menutupi rasa tidak aman dalam dirinya.
b.Ingin melampiaskan emosi negatif.
Ada yang sedang mengalami tekanan, masalah keluarga, atau kesulitan hidup, lalu melampiaskan rasa marah, kesal, atau sakit hatinya kepada orang lain yang dianggap lebih lemah.
c.Kurang empati
Tidak mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain. Mereka tidak menyadari atau tidak peduli bahwa ucapan atau perbuatannya menyakiti hati, merusak harga diri, bahkan menimbulkan penderitaan bagi korban.
2.Faktor Lingkungan dan Pergaulan
a.Melihat contoh buruk di sekitar
Jika di rumah, sekolah, atau lingkungan tempat tinggal sering terlihat orang lain menyakiti, menghina, atau bertindak kasar tanpa ada hukuman, maka hal itu dianggap sebagai hal yang wajar dan bisa ditiru.
b.Ingin diterima dalam kelompok
Seseorang bisa ikut membully hanya agar tidak dikucilkan atau agar dianggap bagian dari kelompok pertemanan. Mereka takut jika tidak ikut, maka giliran dirinya yang akan menjadi sasaran.
c.Anggapan salah bahwa itu hal biasa
Seperti yang dibahas dalam khutbah sebelumnya, banyak orang menganggap membully hanya “canda”, “basa-basi”, atau “bagian dari pergaulan”, sehingga mereka melakukannya tanpa merasa bersalah.
Dalam Islam, semua alasan di atas tidak bisa dijadikan pembenaran. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa:
1.Kekuasaan dan kelebihan yang dimiliki harus digunakan untuk melindungi, bukan menyakiti.
2.Masalah pribadi tidak boleh dijadikan alasan untuk menyakiti hak orang lain.
3.Meniru kebiasaan buruk lingkungan tetaplah dosa, karena setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa membully bukanlah sekadar candaan atau kebiasaan yang bisa dianggap sepele, melainkan perbuatan dosa yang menambah beban amal buruk di hadapan Allah Swt.
Setiap ejekan, hinaan, celaan, julukan yang menyakitkan, fitnah, maupun tindakan yang merendahkan martabat orang lain akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat.
Sering kali pelaku bullying merasa puas karena berhasil membuat orang lain malu atau tertawa di hadapan banyak orang. Padahal, di balik tawa itu bisa jadi ada hati yang terluka, harga diri yang hancur, bahkan masa depan seseorang yang terganggu.
Ketika seorang muslim menyakiti saudaranya, sesungguhnya ia sedang menambah dosa demi dosa yang kelak akan diperhitungkan oleh Allah SWT.
Rasulullah bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari No. 10 dan Muslim No. 40)
Karena itu, marilah kita menjaga lisan, tulisan, dan perbuatan kita. Jangan sampai hanya karena ingin bercanda, mencari perhatian, atau mengikuti tren, kita justru mengumpulkan dosa yang terus bertambah.
Sebaliknya, jadilah pribadi yang menghadirkan rasa aman, menebarkan kasih sayang, menguatkan yang lemah, menghormati sesama, dan mengucapkan perkataan yang baik.
Semoga Allah Swt. menjauhkan kita dari sifat suka merendahkan orang lain, mengampuni dosa-dosa kita, serta membimbing kita menjadi hamba yang berakhlak mulia, yang lisan dan perbuatannya membawa manfaat, bukan mudarat, bagi sesama. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. (Penulis : Dosen STAI Samora Pematangsiantar)






