SIANTAR.SENTERNEWS
Sungai Bakaitan di Kelurahan Sumber Jaya, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Siantar yang berada di lingkungan Perumahan Asido, diduga kuat tercemar limbah cair karena telah berubah warna dan berbuih.
Pantauan di lokasi, Selasa (25/6/2024), air sungai Bakaitan itu merupakan aliran sungai dari Parluasan, Jalan Nagur dan belakang Brimob. Sedangkan informasi yang dihimpun, pencemaran diduga kuat karena adanya limbah pabrik miehun dan pabrik lengkong di Kelurahan Nagapitu.
Seperti disampaikan Sariadi (55) warga Kelurahan Sumber Jaya. Air berubah warna dan berbuih dikatakan sudah berlangsung sejak lima tahun terakhir. Selama itu juga masyarakat tidak lagi memanfaatkan sungai untuk mencuci dan mandi.
“Masyarakat sudah lama resah dan tidak memanfaatkan air sungai Bakaitan. Karena pencemaran yang terjadi cudah cukup parah. Penyebabnya, ada pengelolanya pabrik tak bertanggung jawab, langsung membuang limbahnya ke sungai,” ujar warga tersebut.
Lebih dari itu, di pinggiran sungai, malah berdiri sejumlah usaha ternak yang dikelola secara pribadi. Bahkan, pada waktu-waktu tertentu ditemukan bangkai ternak yang diperkirakan sengaja dibuang ke sungai dan akhirnya hanyut.
Masyarakat berharap kepada Pemko melalui dinas terkait untuk turun ke lapangan. Sehingga, mengetahui asal sumber pencemaran sungai itu. “Kalau ada niat baik dari dinas terkait, tentu dapat menemukan sumber dari pencemaran air sungai dengan mudah,” kata warga lainnya.
Ketika soal pencemaran sungai Bakaitan itu dikonfirmasi kepada Lurah Sumber Jaya, Sofian Siregar SH, malah mengaku tidak pernah mengetahui tentang limbah di sungai Bakaitan. Bahkan mengetahui saat dikonfirmasi.
Selanjutnya, Lurah berencana memanggil RT yang bertugas di wilayah sungai Bakaitan Sumber Jaya. Kemudian, akan dikonfirmasi lagi kepada Lurah Nagapita dan Lurah Nagapitu. Tujuannya untuk mempertanyakan masalah limbah dimaksud.
Sedangkan soal ternak, Lurah Sumber jaya mengaku pernah langsung meninjau ke lapangan. “Kalau ternak, itu kan lebih dari 10 ekor baru bisa dikatakan produksi. Di situ kami hanya menemukan 2 ekor saja. Artinya tidak bisa dibilang ternak,” ujarnya. (Ro)






