SIANTAR,SENTERNEWS
Beternak lebah itu ternyata tidak sesulit yang dibayangkan masyarakat pada umumnya. Terbukti, berhasil dengan baik diwujudkan Flora Nauli Group, Jalan Setia Negara, Kelurahan Setia Negara, Kecamatan Siantar Sitalasari, Kota Siantar.
“Beternak lebah itu mudah. Tidak perlu diberi makan karena lebah mencari makan sendiri. Areal peternakan tidak perlu luas dan tidak butuhkan banyak tenaga kerja. Sedangkan hasilnya cukup menjanjikan,” kata Aam Hasanuddin S Hut pengelola Flora Nauli Group, Rabu (25/2024).
Flora Nauli Group yang dikelola sejak tahun 2010 itu, memanfaatkan lahan dekat rumah seluas sekitar 40 meter, berisi sekitar 100 unit koloni (kotak) sebagai wadah penangkar.
Dalam satu koloni, dihuni tiga kasta lebah seperti Ratu, Pejantan dan Pekerja. “Pejantan mengawani ratu untuk menghasilkan telur. Sedangkan lebah pekerja beterbangan mencari makan dari berbagai pepohonan dan bunga-bunga,” ujarnya.
Paling menguntungkan juga, lebah dapat mencari makan sampai sejauh 2 Km di lahan-lahan hijau dan tetap mengetahui jalan pulang untuk masuk koloni. Kalau sore hari masih mencari makan dan hujan tiba, menginap di luaran, pagi harinya baru pulang.

Aam Hasanuddin, alumni Universitas Simalungun (USI) menjelaskan, lebah yang diternak terdiri dari lebah bersengat (Apis Dorsata) dan tanpa sengat (Trigona Itama). Selain menghasilkan madu, juga menghasilkan propolis dengan kandungan antioksidan, vitamin, mineral, dan asam amino esensial.
“Satu koloni dapat menghasilkan propolis sebanyak 4 Kg perbulan dan dari Flora Nauli dapat menghasilkan madu berkualitas dengan beragam rasa sebanyak 125 Kg perbulan,” jelas Aam Hasanuddin.
Terkait dengan propolis, sebanyak 250 Kg dikirim ke Bogor setiap bulan dengan harga yang cukup menguntungkan. Propolis diolah menjadi berbagai produk kesehatan. Namun, karena Flora Nauli belum mampu memenuhi kebutuhan itu, dibeli dari berbagai peternak lain di Kabupaten Simalungun.
Pengembangan Flora Nauli Group, Aam Hasanuddin juga dibantu Rohman yang juga piawai merawat koloni untuk menghasilkan madu dan propolis. Lebih dari itu, melakukan budi daya lebah untuk ternak dan siap dijual kepada yang berminat untuk beternak.
“Dalam sebulan, satu koloni yang siap ternak, dapat menghasilkan satu liter madu perbulan. Dan, satu koloni dapat dikembangkan menjadi beberapa koloni untuk digunakan sampai lima tahun,” kata Aam Hasanuddin beristrikan anggota DPRD Siantar, Sabariah Harahap.
Aam Hasanuddin berhasil melakukan pengembangan ternak madu lebah sejak tahun 2010 karena merupakan pegawai Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli (Sekarang Balai Penerapan Standart Instrumen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli).
Pada 8 Agustus 2024, menerima penghargaan dari Asosiasi Perlebahan Indonesia sebagai Intruktur Andalan Nasional untuk Budi Daya Lebah Apis dan Lebah Kelulut.
Binaannya menyebar di berbagai daerah dataran tinggi seperti Kabupaten Simalungun, Pakpak dan sekitar Salib Kasih Tapanuli Utara. Selain itu, ada di daerah dataran rendah seperti tepi pantai Kabupaten Batubara.
Pantauan media ini di lingkungan ternak lebah madu Flora Nauli, Rohman dan Aam Hasanuddin dibantu putranya, Ahmad Rasyid yang masih kuliah di AMIK Kota Siantar sedang melakukan pemindahan tangkaran lebah koloni genio trigona torasika ke koloni baru karena koloni lama sudah begitu padat.
“Pemindahan koloni dilakukan karena anak-anak lebah sudah naik ke bagian atas. Caranya, dibuat batang kayu yang sudah berongga supaya pengembangannya semakin pesat,” kata pria kelahiran Majalengka Jawa Barat yang sudah menetap di Kota Siantar sejak 37 tahun lalu itu.
Saat akan dipindahkan, larva-larva di koloni yang lama terpaksa dicongkel menggunakan pahat karena telah melekat kuat di papan dinding koloni. Sementara, madu yang berada di pot-pot koloni disedot menggunakan alat sederhana untuk dikumpul dalam satu wadah. (Bersambung)






