SIANTAR,SENTERNEWS
Kota Pematangsiantar (Siantar-red) yang di kenal sebagai kota toleransi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Indikasinya, geng motor dan begal semakin meresahkan karena begitu merajalela.
Pernyataan itu disampaikan Randa Wijaya, Ketua BEM Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Simalungun (USI). “Untuk itu, kita minta kepada Polisi untuk membersihkan geng motor maupun begal,” katanya, Rabu7 (29/5/2024).
Dijelaskan, pasca ditemukannya dua warga Buntu Pane Kabupaten Asahan di sungai Bah Kora dalam keadaan tak bernyawa beberapa hari lalu, membuat keresahan keresahan dan kegelisahan warga kota Siantar semakin menjadi.
“Kita meminta Kepolisian, bila perlu TNI turun langsung melakukan pengamanan 24 jam secara penuh. Dan, segera membentuk SATGAS bersama TNI dan institusi terkait untuk lebih serius menuntaskan masalah ini,” ujarnya.
Terkait dengan maraknya aksi kejahatan di jalanan itu, BEM FE USI juga sudah menyampaikan surat mendadak ke Polres Siantar. “Tadi, ada sekitar 15 orang mahasiswa mendatangi Mapolres menyerahkan surat mendadak dan kita diterima pihak Humasy Polres,” kata Randa Wijaya.
Surat yang langsung diserahkan itu berjudul “Tenang Pak Polisi. Kami Bukan Mau Demonstrasi
Tapi hanya ingin menyampakan informasi darurat di kota Pematangsiantar secara spontanitas”.
Surat yang terdiri dari 10 poin itu menyampaikan soal keluhan serta berita yang beredar terkait maraknya geng motor melakukan kekerasan secara membabi buta kepada masyarakat pengguna jalan raya pada malam hari dan dini hari.
Untuk itu, pihak kepolisian harus memberikan himbauan secara resmi kepada masyarakat tentang tindakan kriminal geng motor (mengenai benar atau tidaknya informasi yang sudah dikonsumsi masyarakat).
Pada point terakhir surat mendadak tersebut, mahasiswa USI dikatakan ada sekitar 4.000 orang. Dari jumlah itu, ada sekitar 1.400 orang laki-laki yang dikatakan bersedia melakukan sweeping terhadap geng motor tersebut.
“Kalau melakukan sweeping, kami membutuhkan pendampingan hukum dari pihak Kepolisian. Karena mereka sudah merajalela pak, ayo pak polisi,.. bergerak pak,” kata Randa Wijaya membacakan point point terakhir surat yang mereka sampaikan ke Polres Siantar.
Sementara Kasubag Humasay Polres Siantar, Iptu Maraden Pardede dikatakan menyambut mahasiswa dengan positif. Bahkan, memberi penjelasan terkait postingan vidio melalui media sosial yang dinilai tidak memiliki kebenaran utuh.
“Kita mahasiswa juga diminta untuk tidak menyebarkan video yang dikirim orang lain melalui media sosial yang sumbernya dikatakan masih dalam penyelidikan,” kata Randa mengakhiri. (In)






